Menu

Tampilkan postingan dengan label Inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspiratif. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Agustus 2013

Cara Membuat File PDF Berukuran Kecil

Membuat Pdf Berukuran Kecil Bisa dibilang, gampang-gampang susah. Jadi begini, dalam rangka melamar pekerjaan yang saat ini paling sering dilakukan melalui email atau pengiriman berkas dalam bentuk CD, saya mencoba men-scan ijazah dan transkip agar bisa di-attach dalam lamaran saya. Namun, hampir semua perusahaan mensyaratkan agar file attachment-nya berukuran di bawah 500 kb. Sementara satu file hasil scan rata-rata berukuran 2MB (jpg) dan 1MB (pdf). Untuk melamar, saya menggunakan file pdf. Oleh karena itu, saya harus memperkecil file-file saya.

Sudah berselancar di dunia maya sampai mata saya lelah setiap hari, saya masih belum berhasil memperkecil file saya. Ada aplikasi pdf compression sebenarnya, tapi setelah saya coba software/aplikasi tersebut hanya mampu mengurangi sedikit ukuran file PDF saya. Ada lagi yang menyarankan untuk menggunakan Adobe Acrobat. Sayangnya, aplikasi tersebut tidak terinstal di laptop saya. Sehari-hari, saya menggunakan foxit reader untuk membaca file pdf. Akhirnya saya otak-atik dengan aplikasi yang ada dalam laptop. Dan caranya cukup mudah, cukup menggunakan Microsoft Word.

Langsung buka saja Ms.Word seperti kita mengetik biasanya. Setelah selesai memasukkan semua file yang dikehendaki, langsung simpan saja seperti biasa. Dan jangan lupa, pada kotak dialog "save as type" dipilih pdf, serta "optimize for minimum size". Finally, jadilah file pdf yang ukurannya dikehendaki perusahaan. 

Good Luck... Selamat mencoba ya...hehehehehe. :D


Phillipus Arie

Kamis, 13 Juni 2013

Anak Malas Belajar? Bagaimana agar bersemangat kembali?


Berbagai upaya sudah dilakukan agar anak semangat belajar. Tapi, hasilnya justru sebaliknya. Seringkali penyebabnya muncul dari orangtua.


Memahami anak sebagai individu yang sedang menjalani tahapan-tahapan dalam masa pertumbuhannya, diperlukan kesabaran ekstra. Demikian pula ketika mendapati anak yang telah memasuki usia sekolah begitu malas belajar. Mengandalkan guru untuk menyelesaikan masalah? Tentu tak bisa begitu.

Apalagi bila kita menyadari bahwa anak sesungguhnya memulai pendidikannya dari rumah. Sehingga, peran orangtua untuk membantu secara langsung kesulitan yang dialami anak merupakan hal yang sangat penting. Mencari penyebabnya adalah langkah awal untuk menerapkan solusi yang tepat.

Robert D. Carpenter MD adalah seorang peneliti yang pernah mengadakan pengamatan terhadap perkembangan belajar murid sekolah dasar di California, Amerika Serikat. Dalam pengamatannya ditemukan adanya penyebab mengapa anak-anak kerap mengalami masalah dalam belajar yang cenderung membuat mereka jadi malas. Berikut ini empat penyebab yang kerap terjadi dan menyebabkan anak malas belajar.

KBM SDN Pluit 01 Pagi


1. Komunikasi tidak efektif

Ingat, target kita berkomunikasi adalah memastikan bahwa ‘pesan’ yang ingin kita sampaikan kepada penerima pesan (anak) diterima dengan benar. Tentu orangtua ingin agar anak mengerti, menyukai dan melakukan apa-apa yang dipikirkan orangtua. Komunikasi yang efektif juga bisa mengungkapkan kehangatan dan kasih sayang orangtua, misalnya, “Ayah bangga sekali, kamu sudah berusaha keras belajar di semester ini.”

Coba ingat-ingat bagaimana pola komunikasi yang kita bangun selama ini. Sudahkah anak-anak menangkap pesan yang kita sampaikan sesuai dengan yang kita maksud?

Seringkali orangtua lupa menyampaikan ‘isi’ dari pesannya, tapi lebih banyak merembet pada hal-hal yang sebenarnya di luar maksud utamanya. Misal, nilai ulangan harian anak di bawah rata-rata teman sekelasnya. Tanpa bertanya terlebih dulu kepada anak kenapa nilainya jelek, Ibu langsung komentar, “Itulah akibatnya kalau kamu nggak nurut Ibu. Main melulu sih. Ibu tuh dulu waktu sekolah nggak pernah dapat nilai 6. Kamu kok nilainya jelek begini. Gimana sih?” Apa inti pesan yang disampaikan Ibu? Anak salah karena nilainya jelek dan semakin salah karena Ibu selalu membandingkan anak dengan keadaan Ibunya sewaktu sekolah. Akibatnya, anak akan berpendapat, “Ah, nggak ada gunanya bilang ke Ibu kalau nilai jelek. Nanti pasti dimarahin.”

Padahal, mengetahui nilai anak yang di bawah rata-rata buat orangtua sangat penting untuk mengevaluasi penyebabnya. “Wah, nilai anak saya untuk mata pelajaran matematika kenapa selalu jelek ya? Apa yang perlu dibantu?” Sederet pertanyaan itu bisa terjawab bila kita berkomunikasi secara efektif, bukan menyalah-nyalahkan anak. Bila penyebab bisa segera diketahui, maka orangtua bisa mencari solusinya dan melakukan perbaikan.

Komunikasi yang tidak efektif yang berjalan selama bertahun-tahun, pastinya akan berdampak negatif pada pembentukan karakter anak. Padahal, salah satu fungsi komunikasi adalah untuk mengenal diri sendiri dan orang lain. Bisa dipastikan pola seperti itu akan membuat anak bingung dalam mengenali dirinya sendiri dan orangtuanya. ‘Apa sih sebenarnya maunya Ayah/Ibu?’ Kebingungan ini mengakibatkan dalam diri anak tidak tumbuh motivasi kuat untuk berprestasi, toh mereka tak tahu apa gunanya mereka belajar.

2. Tak terbantahkan

‘Pokoknya kamu harus ranking satu. Dulu, ayah sekolah jalan kaki, tapi selalu ranking satu. Kenapa kamu nggak bisa?’ Menekankan dengan kalimat, ‘pokoknya’, ‘seharusnya’, dan kata sejenis lainnya menunjukkan tidak adanya celah untuk pilihan lain.

Orangtua yang tak terbantahkan membuat anak sulit mengemukakan pendapatnya. Bahkan, sulit mengetahui potensi dirinya sendiri, apalagi mengoptimalkan potensinya. Kecenderungan tak terbantahkan ini kalau berlanjut terus bisa menjurus pada upaya memaksakan kehendak orangtua pada anak. Misalnya, “Nanti kamu harus jadi dokter.” Kalaupun akhirnya anak mengikuti kehendak orangtuanya kuliah di fakultas kedokteran, ia akan menjalaninya dengan setengah hati. Bisa jadi, hanya setahun dijalani, selanjutnya keluar karena bertentangan dengan keinginannya. Tentu kita tak ingin ini terjadi bukan?

3. Target tidak pas

Target yang tidak pas, bisa terlalu rendah atau terlalu tinggi dari kemampuannya. Jangan sampai memaksakan begitu banyak kegiatan pada seorang anak sehingga mereka jadi jenuh dan terlalu lelah. Akibat overaktivitas, banyak anak yang kemudian mulai meninggalkan belajar sebagai kegiatan yang seharusnya paling utama.

Di sinilah peranan orangtua sangat penting, jangan sampai terlalu memaksa anak dengan harapan agar mereka dapat menuai prestasi sebanyak-banyaknya. Mereka didaftarkan pada berbagai macam kursus atau les privat tanpa mengetahui bahwa batas IQ seorang anak tidak memungkinkannya menerima berbagai macam kegiatan yang disodorkan oleh orangtua.

Namun, sebaliknya bagi anak yang memiliki IQ tinggi, juga perlu penanganan khusus, karena mereka tidak cukup dengan target regular untuk anak lainnya. Mereka membutuhkan tantangan lebih supaya potensinya teroptimalkan. Untuk mengetahui potensi ini, orangtua perlu bantuan psikolog.

4. Aturan dan hukuman yang tidak mendidik

Terlalu ketat dalam rutinitas harian bisa menyebabkan akhirnya anak malas belajar. Namun, sebaliknya tanpa membuat rutinitas harian anak tidak terbiasa memiliki jadwal belajar yang harus dipatuhinya. Jalan tengahnya, rutinitas tidak bisa ditetapkan secara sepihak oleh orangtua, namun dibangun bersama-sama.

Membuat aturan juga harus diikuti dengan konsekuensi. Jadi, anak dapat mengerti apa hubungannya antara kepatuhan menjalani aturan dengan konsekuensinya, bukan sekadar hukuman yang tidak mendidik, seperti hukuman cubitan bila dapat nilai jelek

Bagi anak usia SD ke atas, orangtua perlu mendiskusikannya dengan anak. Aturan tersebut ditandatangani dan dipasang di dekat meja belajar. Misal, 1) Belajar sehabis shalat Maghrib sampai Isya; 2) Boleh nonton Avatar pada minggu pagi; 3) Main PS paling lama 2 jam di hari libur; 4) dan seterusnya.

Jangan bosan juga untuk meng-up date kesepakatan dan mengingatkan kalau ada yang melanggar. Ingatkan juga akan konsekwensinya, misalnya “Belajar yuk! Kemarin kita sepakat kan kalau nggak belajar, gimana hayo?”

Biarkan anak menjawab konsekwensinya. Jika aturan itu sudah dibuat bersama, pasti anak ingat akan konsekwensinya. Harapannya, kesadaran untuk belajar akan tumbuh dari dalam diri anak, bukan dipaksakan orangtua. Tidak ada lagi hukuman yang tidak mendidik, karena hukuman akan membuat anak berpikir “Ugh, belajar sangat tidak menyenangkan!”

Mewaspadai empat hal tersebut penting untuk mencegah kemalasan anak semakin parah. Yuk, bantu anak-anak kita agar rajin dan senang belajar.




Rabu, 22 Mei 2013

Saya Percaya, Semua Anak adalah Juara

Bondan Pattipi selalu muncul di sekolah, terutama saat sebelum bel masuk, jam istirahat, dan jam pulang sekolah. Namun, namanya tidak terdaftar di kelas mana pun di SD YPK Siboru, Fakfak Barat.

Keterbatasannya membuat Bondan tidak sekolah. Suatu waktu, di sela latihan gerak jalan, Mario Surya Ramadhan memiliki kesempatan berinteraksi dengannya. Namun, meski tidak bisa berbicara dan mendengar, Bondan menunjukkan semangat belajar yang tinggi.

Awalnya, Bondan bergerak kikuk karena dia tidak bisa mendengar aba-aba dan instruksi pemimpin barisan. Namun, dalam pertemuan kedua, Bondan justru bergerak sesuai dengan aba-aba dari Mario. Dia fokus pada pengajarnya.

Mario percaya pada teori multiple intelligence, percaya bahwa semua anak adalah juara...



"Hikmah dari Seorang Mono"


Nama lengkapnya Bondan Pattipi, teman-teman biasa memanggilnya Bondan. Bondan kira-kira berusia sebelas tahun, postur tubuhnya atletis dan berisi. Ia adalah anak ketiga dari lima bersaudara. Keluarganya bisa dikatakan termasuk kelas menengah ke atas untuk ukuran Kampung Siboru. Saya biasa menumpang menonton televisi dan minum kopi di rumahnya.

Bondan adalah seorang mono, sebutan yang lazim dipakai oleh masyarakat Fakfak untuk seorang tuna wicara. Namanya tidak tercatat di dalam buku absen kelas mana pun di SD YPK Siboru. Bondan sering muncul di sekolah terutama ketika sebelum bel masuk, jam istirahat dan jam pulang sekolah. Kadang ia mengintip dari pintu ketika saya sedang mengajar. Pasti jika dia tinggal di kota besar sudah disekolahkan di SLB oleh orang tuanya.

Bondan memang tidak sekolah tetapi Bondan tidak bodoh. Melihat Bondan saya langsung teringat teori multiple intelligence, yang percaya semua anak adalah juara. Saya menemukan sisi juara Bondan ketika sekolah kami sedang berlatih untuk mengikuti lomba dalam rangka HUT Fakfak. SD YPK Siboru mengirimkan satu tim gerak jalan putra, tujuh pelari putra dan tiga pelari putri.

Suatu ketika saya sedang melatih anak-anak gerak jalan, Bondan menonton di pinggir lapangan. Kebetulan ada anak yang tidak datang latihan, saya memanggil Bondan untuk ikut latihan supaya barisan tidak bolong. Tidak terpintas di benak saya untuk memasukan Bondan ke dalam pasukan gerak jalan. Bondan tidak bisa mendengar aba-aba dan instruksi pemimpin barisan sehingga tidak mungkin bisa menyesuaikan langkah dengan anggota lain, pikir saya. Bondan masih terlihat kikuk dan kurang percaya diri bergabung dengan anak-anak sekolah.

Hari berikutnya, supaya memudahkan anak-anak berjalan dan menyesuaikan dengan medan lomba, kami berlatih di kampung sebelah yang telah memiliki jalan aspal. Ketika saya berjalan ke arah pelabuhan hendak pergi ke pantai sebelah, saya tidak sengaja melihat Bondan dari kejauhan yang sudah di atas perahu bersama bapak dan ibunya, siap untuk pergi memancing. Karena kemarin dia ikut latihan, saya langsung memberi kode melambaikan tangan untuk ikut berlatih gerak jalan bersama anak-anak yang lain.

Bondan langsung lompat dari perahu, berlari menuju rumahnya. Tidak lama Bondan muncul di pelabuhan, sudah memakai sepatu dan membawa tas. Ketika latihan, saya terkejut dengan kemampuan Bondan menjaga irama langkahnya agar serasi dengan teman-teman yang lain. Bahkan, ketika anak-anak yang lain kebingungan menyesuaikan langkah dan kerap salah mengikuti aba-aba “kiri..kiri..kiri-kanan-kiri” yang saya teriakan, Bondan bisa dengan mudah mengatur langkahnya. Ketika anak-anak sibuk mengobrol waktu saya memberikan instruksi dan mencontohkan, Bondan tetap fokus kepada saya. Saya menjadikan Bondan contoh peraga di depan anak-anak yang lain. Anak-anak memberi tepuk tangan ketika Bondan mampu menjalankan instruksi saya.

Keesokan harinya ketika saya datang ke rumahnya, orang tua nya bercerita Bondan senang sekali bisa ikut gerak jalan bersama teman-teman yang lain. Saya memutuskan untuk memasukan Bondan ke dalam tim gerak jalan karena kemampuannya menjaga irama langkah.

Bondan memakai baju olahraga pinjaman ketika hari pelaksanaan lomba. Bondan mampu menyesuaikan diri dengan aba-aba yang terikan pemimpin pasukan. Ia kuat berjalan teratur sejauh 10 km. Pasukan gerak jalan Siboru belum berhasil mendapat juara. Bondan memberi hikmah berharga bagi saya dan anak-anak. Bondan mencontohkan cara patuh dan memperhatikan instruksi dengan baik. Tidak banyak bicara tetapi banyak bekerja. Bukan banyak bicara tetapi ternyata tidak bisa. Mono juga bisa.

Sumber :
Editor :
Caroline Damanik