Menu

"Perkemahan Jumat Sabtu (PERJUSA) Bulan Mei 2016"

Selasa, 28 Mei 2013

"Bu, Kapan Kita Latihan Upacara Lagi?"

dok.Indonesia Mengajar

Upacara bendera memang sebuah bentuk ritual. Upacara bendera hanyalah sebuah ritual tanpa makna jika esensinya tidak disadari sepenuhnya. Ngerinya, baik ritual maupun kesadaran tentang esensi tentang upacara bendera, perlahan ditinggalkan belakangan ini di negeri ini.


Namun, secercah harapan selalu saja muncul. Ada siswa-siswi yang rindu mengikuti dan terlibat dalam upacara bendera, menyanyikan Indonesia Raya dengan segenap hati, hormat pada Sang Merah Putih, menyesap dalam-dalam bunyi Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, mengheningkan cipta untuk para pahlawan, serta bersyukur kepada Sang Pencipta.




Ratih Dwiastuti bahagia karena upacara bendera di SDN 4 Langkahan, Aceh Utara, kembali digelar. Para siswanya sangat antusias. Bahkan, ada yang bertanya kapan lagi bisa terlibat dalam upacara.



Lewat upacara, anak-anak itu menaruh rasa hormat kepada bangsa dan negara sekaligus menunjukkan bahwa mereka adalah bagian dari Indonesia dan siap berkarya untuk Indonesia.



Bagaimana dengan Anda, masihkah rindu pada upacara bendera?







 Ini bukan soal kesakralan upacara bendera di hari Senin. Ini soal antusiasme mengikuti upacara bendera hari Senin. Agak miris ketika mengingat bawasannya banyak diantara kita yang merasa ogah-ogahan mengikuti upacara bendera hari Senin ketika SD dulu. Setiap Minggu melakukan hal yang sama, mendengar hal yang sama, dan berdiri di lapangan yang sama.


Tapi ternyata hal ini tidak dirasakan oleh siswa SD Negeri 4 Langkahan. Hari itu hari Senin, 22 April 2013. Ketika lonceng sudah dibunyikan sebanyak tiga kali pertanda pelajaran pertama akan segera dimulai, Bu Fah, salah satu guru yang sedang piket mengumumkan pada anak-anak “Hari ini upacara.”. Tanpa aba-aba, anak-anak langsung berbaris sesuai kelasnya masing-masing dibantu beberapa guru untuk merapikan barisan. Beberapa petugas yang sudah sempat latihan, langsung mengambil posisi sesuai perannya masing-masing. Aku sempat kaget, begitu rindunya para siswa dengan upacara bendera. Wajar saja, terakhir kali mengadakan upacara bendera saat sebelum Idul Fitri 2012. Hampir satu tahun mereka tidak merasakan yang namanya upacara bendera. Alasannya beragam. Cuaca yang kurang mendukung sehingga lapangan becek, tidak sempat latihan para petugas, guru pembimbing petugas datang terlambat, dan alasan beragam lainnya.

Bendera merah-putih masih berkibar di tiang. Langsung kuturunkan dan dilipat bersama petugas pengibar bendera. Kondisi bendera sangat memprihatinkan. Sobek, berlumut sedikit di bagian warna putih, dan warna merah sudah berubah menjadi warna jingga. Tidak apalah, pikirku. Ini upacara perdana, setelah hampir satu tahun vakum. Kepala Sekolah yang biasanya menjadi pembina datang terlambat, sehingga digantikan oleh guru olahraga. Upacara pun dimulai. Dalam menjalankan tugasnya, petugas upacara sesekali masih diingatkan olehku dan guru lain. Termasuk saat menyanyikan lagu Indonesia Raya. Tim paduan suara yang terdiri dari siswa kelas Vi, sudah lupa liriknya. Maka aku dan beberapa guru membantu untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya sambil hormat. Begitu juga saat menyanyikan lagu wajib nasional. Tim paduan suara masih dibantu oleh beberapa guru. Saat sesi pembacaan doa pun, ada sedikit yang berbeda. Teriakan “aamiin” layaknya ketika surat Al-Fatihah selesai dibacakan saat shalat berjamaah, senantiasa terdengar dari para peserta upacara. Aku sedikit tertawa ketika mengetahui kenyataan bahwa memang terbiasa seperti itu. Tertawa karena ternyata keberagaman yang terlihat pun sampai dengan tata upacara bendera. Cukup menarik dan merasa bersyukur bisa melihat keberagaman ini. : )

Di tengah-tengah upacara berlangsung, kepala sekolah datang dan membantu menjaga barisan peserta upacara agar tetap tertib. Selesai upacara, kepalas sekolah menginstruksikan kepada seluruh siswa untuk bersalaman dengan guru-guru baru kemudian masuk kelas. Melihat kenyataan bahwa masih banyak siswa yang belum hafal Indonesia Raya, kepala sekolah langsung menginstruksikan kepada guru kelas 5 dan kelas 6 untuk menyanyikan Indonesia Raya di dalam kelas sebelum memulai pelajaran hari itu. Maka sayup terdengar lantunan Indoensia Raya di beberapa ruang kelas hari itu. Speechless. Itulah yang kurasakan. Upacara bendera berbuah wawasan kebangsaan. Jika saja upacara tidak terselenggara hari itu, mungkin siswa-siswaku di sini lama kelamaan tidak kenal lagu Indonesia Raya. Di balik hebohnya isu bendera lain oleh kalangan elit ‘di atas sana’ , para siswa di sini rindu yang namanya upacara bendera. Mereka antusias karena jarang melakukan. Bahkan siswa kelas 4 langsung bertanya kepadaku, “bu, kapan latihan upacara lagi?”.

Mungkin bagi kita yang sering mengalaminya sering bertanya-tanya, apa sebenarnya esensi upacara bendera. Hanya sebuah ritual turun-temurun, kehilangan makna karena sudah terlalu sering. Aku tidak melihat itu hanya sebuah ritual di SD 4 Langkahan. Beberapa sekolah di kecamatan sini enggan melakukan upacara bendera karena ‘disangka’ oleh masyarakat sekitar membawa isu doktrin nasionalisme. Upacara bendera adalah sebuah penghargaan kepada generasi bangsa bahwa mereka MASIH bagian dari Indonesia, berhak mendapat wawasan kebangsaan. They always be a part of Indonesia’s next generation. Semoga ALLAH SWT selalu meridai penyelenggaraan upacara bendera di sini dan memberi efek ‘rindu’ kepada para pelakunya (baik siswa maupun guru).


Sumber : Blog Pengajar Muda Indonesia Mengajar. Kompas.com  28 Mei 2013  16:36 WIB
Editor :
Caroline Damanik







Postingan